Ulasan Singkat Penggunaan Geoekonomi Oleh Republik Rakyat Tiongkok terhadap Taiwan dan Korea Utara

 1. Pendekatan Geokonomi Tiongkok Terhadap Taiwan 

    Hubungan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Taiwan dapat dikatakan bersifat konfilktual. Mengingat dari latar belakang sejarah yang memperlihatkan Taiwan sebagai tempat pelarian bagi Chiang Kai-shek seseorang dari Partai Komintang Nasionalis setelah mengalami kekalahan dengan Partai Komunis Tiongkok. Sehingga membuat status keberadaan dari Taiwan dianggap oleh Tiongkok sebagai provinsi bagian dari negaranya. (Albert, 2020).  Melihat keberadaan dari Taiwan masih berdiri independen sebagai negara, membuat Tiongkok melakukan tindakan berupa penekanan geokonomi dengan berbagai instrumen. Tujuan dari Tiongkok ini adalah reunifikasi atau penyatuan kembali pada Wilayah Taiwan tersebut.

              Penggunaan geokonomi yang dilakukan oleh Tiongkok terhadap Taiwan dapat terlihat dari dua bentuk tindakan. Pertama merupakan suatu bentuk yang melalui hubungan multilateral dalam setiap kegiatan relasinya di seluruh dunia untuk mendepankan “One-China Policy” dengan persyaratan tidak mengakui keberadaan Taiwan sebagai negara (Blackwill & Harris, 2016). Dalam hal ini, berupa penekanan kebijakan luar negeri yang dilakukan oleh Tiongkok dengan menggunakan geoekonomi dan instrumennya. Seperti contoh kasus tahun 2017 yang memperlihatkan penerapan instrumen “Investment Policy” oleh Tiongkok terhadap Panama dengan membangun pelabuhan membuatnya mengakui “One-China Policy” (BBC News, 2017) . Sehingga mengakibatkan pengurangan pengakuan bagi Taiwan dan keuntungan bagi Tiongkok sebagai langkah menuju reunifikasi.

              Kemudian bentuk kedua yang dilakukan oleh Tiongkok adalah melalui penekanan geoekonomi dalam hubungan langsungnya dengan Taiwan (Blackwill & Harris, 2016). Dalam hal ini, terdapat penerapan instrumen geoekonomi secara langsung memberi pengaruh terhadap Taiwan secara berkala diberikan oleh Tiongkok. Melihat penerapan salah satu instrumen geoekonomi yang dilakukan oleh Tiongkok berupa “Economic Sanctions” dalam sektor ekspor-impor, finansial dan investasi secara langsung kepada Taiwan (Tanner, 2007). Sehingga penekanan yang dilakukan dapat melemahkan posisi Taiwan dan secara bertahap membuatnya menjadi bagian dari Tiongkok melalui rencana reunifikasi. 


2. Pendekatan Geoekonomi Tiongkok Terhadap Korea Utara. 

   Relasi hubungan yang terjadi antara Republik Rakyat Tiongkok dan Korea Utara memperlihatkan keterkaitan sebagai mitra penting dari keduanya. Bedasarkan latar belakang sejarah pembangunan relasi dari kedua negara dalam Perang Korea pada tahun 1950-1953. Dimana Tiongkok sebagai sekutu Korea Utara memberikan bantuan ekonomi dan politik dalam menghadapi Korea Selatan serta sekutunya (Albert, The China–North Korea Relationship, 2019). Hubungan relasi yang berjalan baik secara lama diantara kedua negara tidak terlepas dari penerapan geoekonomi yang dari Tiongkok. Terutama Tiongkok memiliki kepentingan nasioanl atau geopolitik pada Korea Utara dalam Kawasan Asia Timur (Semenanjung Korea). Maka dari itu, Tiongkok menerapkan geoekonomi dengan instrumennya terhadap Korea Utara dalam menagamankan kepentingan nasional serta geopolitik.

            Perlu diketahui bahwa Tiongkok memandang stabilitas Kawasan Asia Timur sebagai salah satu kepentingan nasional dan geopolitik. Dalam hal ini, memastikan kelanjutan status quo Semenanjung Korea dengan mempromosikan stabilitas dan memperluas pengaruh Tiongkok di wilayah tersebut (Blackwill & Harris, 2016). Maka hal yang dilakukan oleh Tiongkok adalah penerapan geoekonomi berupa instrumen terhadap Korea Utara. Seperti terdapat gambaran penerapan dua instrumen geoekonomi berupa “Economic Assitance”  dengan memberikan bantuan dan pangan serta “Trade Policy” yang dilakukan oleh Tiongkok (Albert, The China–North Korea Relationship, 2019). Sehingga dengan menerapkan beberapa instrumen geoekonomi yang dilakukan oleh Tiongkok dapat menjaga stabilitas Semenanjung Korea sebagai kepentingan utamanya.  

Komentar