Ulasan Kritis Film "The Lawrence of Arabia” tahun 1962 serta Kejatuhan Kesultanan Utsmaniyah dan Pergeseran Peradaban Islam
Peran dari Barat Dalam Kejatuhan Kesultanan Utsmaniyah dan Pergeseran Peradaban Islam
I. PENDAHULUAN
Secara kritis merupakan analisis film dari tahun 1962 berjudul “Lawrence of Arabia”. Dalam hal ini, menceritakan perjalanan seorang tokoh bernama Thomas Edward Lawrence yang memiliki pengaruh besar dibalik peristiwa “Pemberontakan Arab” terhadap Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire) pada tahun 1916 hingga 1918. Selain itu, juga memperlihatkan peran dari Pangeran Faisal I dan Britania Raya dalam peristiwa tersebut. Sehingga membuat keruntuhan bagi Kesultanan Utsmaniyah, pembagian wilayah kekuasaan pada Kawasan Timur Tengah, pergeseran Peradaban Islam dan konflik berkepanjangan.
Perjalanan
Lawrence berawal pada saat mendapat perintah baru dari Biro Arab Pemerintah
Britania Raya untuk melakukan pendekatan terhadap Pangeran Faizal di Hijaz.
Dalam hal ini, Pemerintah Britania Raya dan Sekutu dalam “Triple Etente” memiliki kepentingan tersendiri berupa sumber daya
alam dan kekuasaan wilayah dari Kesultanan Utsmaniyah. Sehingga memanfaatkan peran
Lawrence dalam membentuk sebuah pemberontakan dari beberapa Suku Arab terhadap
Kesultanan Utsmaniyah. Sebelumnya perlu diketahui bahwa pada tahun 1916 belum
terbentuknya Bangsa Arab dengan masih terbagi menjadi beberapa suku seperti
Badui, Howeitat, Harif, Ageyil, Ruala
dan lainnya
Proses
kejatuhan Kesultanan Utsmaniyah makin terjadi ketika terdapat keterlibatan
mendalam dari Britania Raya, Perancis dan Rusia dalam fraksi “Triple Etente” membuat perjanjian pembagian kekuasaan atas
wilayah. Dalam hal ini, pembentukan perjanjian bernama “Sykes-Picot Agreement” yang secara garis besar membagi beberapa
kekuasaan wilayah Utsmaniyah kepada Britania Raya, Perancis dan Rusia
Gambar 1.0 peta pembagian Wilayah Kesultanan Utsmaniyah oleh Fraksi “Triple Entente”
Sumber: Britannica“Sykes-Picot Agreement”. https://www.britannica.com/event/Sykes-Picot-Agreement (diakses 5 Mei 2020).
Pembagian beberapa wilayah yang dilakukan oleh Negara Barat dan kejatuhan Kesultanan Utsmaniyah membuat terjadinya konflik berkepanjangan serta pergeseran pada Peradaban Islam. Perbuatan yang dilakukan oleh Negara Barat (Britania Raya dan Perancis) menghacurkan tatanan sebelumnya dibawah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah. Melihat kesalahan tindakan yang dilakukan dengan menciptakan beberapa negara, penunjukkan para pemimpin, memberikan gambaran batas-batas, dan memperkenalkan sistem negara (Fromkin, 1989). Sehingga terdapat penekanan berupa pergeseran pada Peradaban Islam dan konflik berkepanjangan.
Kemunculan beberapa negara Arab dengan kejatuhan Kesultanan Utsmaniyah dan dekolonialisasi yang dilakukan oleh Negara Barat menjadi awal pergeseran Peradaban Islam serta konflik berkepanjangan. Melihat keterlibatan Britania Raya dan Perancis (Negara Barat) yang membuat “Sykes-Picot Agreement” dengan mendirikan koloni terhadap daerah bekas kekuasaan Utsmaniyah menjadi masalah berkelanjutan pada Kawasan Timur Tengah (Hughes, 2016). Terutama pada tahun 1920-1948 terdapat Mandat yang diberikan kepada Britania Raya atas Palestina menjadi pemicu utama dalam konflik berkepanjangan bagi Peradaban Islam. Melihat salah satu isi mandat mennyebutkan pemberian tanggung jawab kepada Britania Raya untuk menciptakan negara bagi kaum Yahudi di wilayah tersebut (Ginat, 2018). Tentu saja menjadi penghinaan besar bagi beberapa negara Arab yang memiliki keyakinan bahwa Palestina merupakan bagian dari kepemilikan dari Bangsa Arab. Sehingga melihat hal itu, melahirkan gambaran tiga perang besar pada tahun 1948, 1967 dan 1973 dilakukan keduanya (Beauchamp, 2018). Konflik antara Israel dan Palestina masih berglangsung hingga sekarang. Bahkan dapat dikatakan bisa menjadi salah satu bentuk hasil pergeseran Peradaban Islam dan konflik berkepanjangan.
Lingkup pengaruh atau sphere of influence dari Negara Barat menjadi penyebab utama yang mengakibatkan terbentuknya pergeseran pada Peradaban Islam dan konflik berkepanjangan. Terutama pada kebijakan “Global War on Terror” yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Ketika pada tahun 2003 terdapat ivansi yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya terhadap Irak memberikan peningkatan kelompok teroris baru dalam kawasan Timur Tengah. Dalam hal ini, kekecewaan dan rasa balas dendam yang berasal dari golongan kaum Sunni di Irak pada tahun 2003 akhirnya mengikuti kelompok pemberontakan (joint insurgency) dibawah kepemimpinan Abu Musab al-Zarqawi (Vox, 2015). Walaupun pada akhirnya Amerika berhasil membuat kondisi Irak kembali stabil pada tahun 2011, namun demikian menimbulkan gerakan organisasi teroris baru. Seperti kebangkitan “Islamic State of Iraq and Syria” (ISIS) dibawah kepemimpinan Abu Bakr al-Baghdadi memberikan gambaran kegagalan kebijakan Amerika (Vox, 2015). Kemudian hasil yang sama juga terjadi di Libya saat peristiwa “Arab Spring” pada tahun 2011 dengan tujuan menggulingkan Presiden Muammar Qaaddafi. Terdapat intervensi yang dilakukan oleh Amerika dan NATO dengan dalih “Demokratisasi” terhadap Libya
dianggap gagal bahkan membuat perang saudara pada tahun 2014
III. KESIMPULAN
Pergeseran dan konflik berkepanjangan pada peradaban Islam terjadi dipengaruhi oleh keterlibatan dan peran Barat. Berawal dari peran Britania Raya dalam membentuk Pemberontakan Arab (Arab Revolt) yang pada akhirnya membuat kejatuhan Kesultanan Utsmaniyah. Kemudian pembentukan “Sykes-Picot Agreement” yang mengarah dengan pemberian Mandat atas Palestina konflik antara kaum Zionis dan Arab dalam menguasai wilayah tersebut. Selain itu, titik utamanya terjadi saat terdapat kebijakan “Global War on Terror” dan intervensi kontroversial yang dilakukan oleh Amerika Serikat membuat gambaran jelas pergeseran peradaban Islam. Bahkan menimbulkan konflik berkepanjangan yang masih terjadi hingga sekarang, seperti di Irak dan Libya. Sehingga dalam film “Lawrence of Arabia” menjelaskan peran pertama yang dilakukan Barat dalam mengubah tatanan peradaban Islam menghasilkan konflik berkepanjangan tersebut.
Komentar
Posting Komentar