Ulasan Singkat dari "Indonesia Among The Powers: Should ASEAN Still Matters to Indonesia" oleh See Seng Tan tahun 2014.
Indonesia Tetap Memandang ASEAN Sebagai Cornerstone dalam Kawasan Asia Tenggara
Tulisan ini berbentuk summary dari jurnal bernama “Indonesia Among the Powers: Should ASEAN Still Matters” yang ditulis oleh See Seng Tan. Dalam hal ini, bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas dan nilai dari mata kuliah Masyarakat ASEAN. Secara singkat terdapat pembahasan kebijakan luar negeri dari Indonesia yang memandang pada “Association of Southeast Asian Nations” (ASEAN). Terutama melihat ASEAN sebagai organisasi regional yang berada di Kawasan Asia Tenggara. Maka dari itu, Indonesia memiliki penekanan yang concern terhadap ASEAN dalam arah politik luar negerinya.
Indonesia memiliki penerapan arah kebijakan luar negeri Indonesia yang memandang ASEAN sebagai cornerstone. Melihat kilas balik sejarah bahwa Indonesia merupakan salah satu dari lima negara penggagas berdirinya ASEAN pada tahun 1967. Keberadaan rasa dilemma akibat proxy war dari kompetitsi pengaruh Uni Soviet dan Amerika Serikat yang terjadi menjadi alasan lahirnya organisasi regional ASEAN. Maka alasan security (keamanan) regional di Asia Tenggara menjadi hal utama terbentuknya organisasi kawasan bersama dibandingkan meminta bantuan dari kekuasaan eksternal. Penekanan dari ASEAN berupa forum multilateral regional memberikan tiga pilar landasan cooperation (kerja sama) bagi sepuluh negara dari Kawasan Asia Tenggara. Seperti penekanan kerja sama bedasarkan pilar Political, Economy dan Security Community yang berada pada ASEAN. Sehingga memberikan konsep berupa keuntungan bagi setiap negara anggota tidak terkecuali menjadi momentum untuk mengejar kepentingan nasional. Secara khusus bagi Indonesia yang memanfaatkan ASEAN untuk mengamankan dan mengejar kepentingan nasionalya tersebut.
Penekanan ASEAN sebagai cornerstone yang menjadi prioritas bagi Indonesia tidak selalu memberi keuntungan. Mengingat terdapat beberapa masalah dan dinamika dalam ASEAN yang secara tidak langsung berdampak pada Indonesia. Seperti permasalahan penolakan yang dilakukan oleh beberapa negara anggota menolak upaya dari Indonesia untuk memperdalam integrasi regional di Asia Tenggara. Bahkan terdapat rasa frustasi dan kecewa dari tingkat elite Pemerintah Indonesia akibat tindakan beberapa negara anggota ASEAN tersebut. Terutama pada era Pemerintahan Soeharto kegagalan untuk meningkatkan kemajuan bagi Indonesia dan Kawasan Asia Tenggara. Kemudian membuat arah politik atau kebijakan luar negeri Indonesia untuk lebih bersifat extra-regional yang diproyeksikan pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Melihat pada kondisi Indonesia yang secara kontemporer menujukkan kemajuan dalam prospek ekonomi dengan ikut serta keanggotaan “Group of Twenty” (G20) dan transisi demokrasi pasca Soeharto. Selain itu, posisi Indonesia yang bersifat bebas aktif dengan pembentukan Non Aligned Movement (NAM). Maka menjadi suatu pemancik (trigger) bagi elite Pemerintahan Indonesia untuk mempertimbangkan kebijakan luar negeri dengan tidak hanya berpusat pada ASEAN.
Kebijakan atau politik luar negeri Indonesia harus tetap mengutamakan ASEAN sebagai cornerstone hingga sekarang. Tidak hanya karena letak secara geografis berada di Kawasan Asia Tenggara dan implementasi dari kerja sama yang menitikberatkan tiga pilar. Namun demikian, terdapat keberadaan tiga bentuk alasan mendasar pentingnya ASEAN bagi Indonesia sebagai negara dengan pemain diplomatik terbesar dan ekonomi berkembang. Mengingat terdapat pergeseran dalam dinamika Kawasan Asia-Pasifik yang memberi dampak bagi ASEAN. Keberadaan kompetitsi dua negara Major Powers untuk mempengaruhi dari Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok. Sehingga juga dapat mengancam stabilitas dan kemanan dari Indonesia dengan secara tidak langsung apabila terjadi gejolak pada stabilitas Kawasan Asia Tenggara.
Alasan pertama adalah menitikberatkan Indonesia untuk tetap berlanjut menggunakan strategi hedge dalam melawan kekuasaan utama dari Amerika dan Tiongkok. Dalam hal ini, bertujuan untuk menjaga keseimbangan keamanan kawasan agar stabil dan membangun Indonesia agar lebih berdaulat, mandiri, adil dan makmur di Kawasan Asia Tenggara. Berawal dari pengenalan konsep bernama “Dynamic Equilibrium” yang ditawarkan oleh mantan Menteri Luar Negeri Indonesia bernama Marty Natalegawa dari kompetitsi kekuasaan besar pada regional Asia. Melalui penekanan keseimbangan dan saling berdampingan antar satu dengan yang lain demi menjaga keamanan regional. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Rizal Sukma mengenai stategi dari Indonesia yang membangun kemitraan dengan Australia, Korea Selatan, India dan Jepang. Memberikan gambaran kuat bahwa tatanan kawasan tidak hanya didominasi oleh Tiongkok dan Amerika. Akan tetapi juga menunjukkan beberapa eksistensi negara yang hadir pada regional tersebut.
Kemudian alasan kedua lebih berpedoman pada ASEAN dan sifat komplesitas institusinya tetap relevan bagi Indonesia untuk menyeimbangkan dua kekuasaan besar. Melihat terdapat beberapa forum lembaga institusi yang berada dibawah kendali ASEAN di Kawasan Asia Tenggara. Seperti keberadaan dari forum “East Asian Summit” (EAS), ASEAN+3, "ASEAN Regional Forum" (ARF) dan “ASEAN Defence Ministers Meeting” (ADMM). Beberapa forum yang disebutkan sebelumnya dapat digunakan oleh Indonesia dengan secara proaktif dalam melibatkan kekuasaan besar dan regional untuk berdialog dengan ASEAN. Terutama melihat kompetisi regional antara Amerika dan Tiongkok di Kawasan Asia Tenggara. Karena Indonesia juga dapat memainkan peran sebagai “middle power role” menggunakan diplomasi multilateral terhadap regional untuk meraih tujuan kebijakan luar negerinya tersebut. Sehingga tetap dapat berpegang teguh pada arah kebijakan luar negerinya yang bebas dan aktif.
Alasan terakhir lebih berfokus politik luar negeri Indonesia yang belum pernah mengesampingkan jalur dan pilar ASEAN sentris. Dua alasan sebelumnya yang dijelaskan diatas keuntungan startegis bagi Indonesia untuk tetap bertahan dalam ASEAN sebagai langkah mengamankan kepentingan nasionalnya. Sementara melihat kembali pada alasan ketiga merupakan penjelasan terhadap kebijakan luar negeri Indonesia yang tidak terpusat dengan ASEAN. Pada awalnya memiliki sentralitas ASEAN dengan penekanan komitmen untuk menjaga regional Asia Tenggara. Namun demikian, pergeseran dalam sistem internasional membuat banyak pendapat bahwa Indonesia tidak seharusnya bergantung pada organisasi regional tersebut. Sehingga Indonesia harus mengejar kepentingan nasionalnya di masa depan untuk dapat sustain dalam sistem internasional.
Implementasi dari kebijakan atau politik luar negeri Indonesia yang memusatkan ASEAN. Tidak terlepas dari pencapaian keberhasilan terbatas yang dimiliki oleh ASEAN sebagai forum multilateral di Kawasan Asia Tenggara. Melihat beberapa prinsip yang diterapkan berupa rasa hormat terhadap sovereignty setiap negara anggota. Terutama dengan prinsip non-intervention yang dimiliki oleh ASEAN menjadi nilai lebih bagi Indonesia. Maka mempermudah terpenuhinya suatu “raison d'être” (kepentingan nasional) bagi setiap negara anggota. Walaupun begitu, berpedoman kembali dalam arah politik atau kebijakan luar negeri Indonesia memang tidak hanya mengandalkan forum multilateral seperti ASEAN. Dalam hal ini, menggunakan juga forum unilateral dan bilateral dalam melakukan penyeimbangan kekuasaan dari Tiongkok dan Amerika di Kawasan Asia Tenggara. Sehingga membuat Indonesia lebih mudah dalam melakukan monitoring kompentisi regional dari dua negara besar tersebut.
Bedasarkan pemaparan diatas memperlihatkan kesimpulan bahwa ASEAN masih menjadi penting bagi Indonesia. Dalam hal ini, sebagai organisasi regional yang berada di Kawasan Asia Tenggara menjadi penting untuk sekarag mengingat poiltik dunia kontemporer mengalami pergeseran. Pemantik khusus dari bentuk sistem internasional bipolar dengan penekanan rivalry competition Amerika dan Tiongkok. Menjadi perhatian bagi Indonesia dan beberapa negara anggota ASEAN lainnya. Karena berhasil mencakup salah satu wilayah starategis yaitu Laut Cina Selatan yang mengakibatkannya terjadi gejolak konflik. Penekanan bahwa Indonesia tetap memandang penting ASEAN dengan tujuan untuk stabilitas kawasan serta menjaga kepentingan nasional Indonesia. Melihat tiga alasan kembali yang merujuk perhitungan Indonesia tetap bertahan dan menjaga kemanan Kawasan Asia Tenggara. Sehingga memberikan gambaran bahwa Indonesia tetap komitmen dan mempertahankan posisinya dalam ASEAN.
Sumber:
Tan, S. S. (2014). Indonesia Among The Powers: Should ASEAN Still Matters to Indonesia . Australian National University, 117-124
Komentar
Posting Komentar